Categories: Inspirasi

Muchlisin

belajar maka berpijar - kajian wali santri smpit al ibrah

Ittaqillaaha haitsumaa kunta. Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Demikian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau mengkorelasikan taqwa dengan variabel tempat atau lingkungan. Ada orang yang taqwa di masjid tapi tidak bisa taqwa di tempat kerja. Ada orang yang bisa taqwa di kampungnya tapi tidak bisa taqwa begitu keluar kota.

Maka, keberhasilan pondok pesantren dan sekolah Islam adalah ketika mampu membentuk taqwa bukan hanya di pesantren dan sekolah tetapi juga di rumah.

Alhamdulillah, santri-santri SMPIT Al Ibrah tetap shalat lima waktu berjamaah di masjid selama liburan panjang Idul Fitri kemarin. Setidaknya, demikianlah jawaban mereka ketika saya bertanya saat kajian wali santri, Senin, 12 Mei 2025.

Saya yakin ayah bunda yang duduk di belakang mereka bahagia. Sebab anak shalih adalah penyejuk mata. Sebagaimana doa-doa kita: Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)

Kajian Wali Santri SMPIT Al Ibrah

Kajian wali santri adalah satu satu program Pesantren SMPIT Al Ibrah. Setiap jadwal kunjungan, wali santri akan berkumpul di masjid terlebih dahulu untuk mengikuti kajian sebelum mereka bisa mengajak putra-putrinya keluar pesantren.

Tidak lama. Kajian ini hanya berlangsung selama setengah hingga satu jam. Namun, manfaatnya cukup besar untuk mensinergikan peran lembaga pendidikan (sekolah atau pesantren) dan orang tua. Ketika mereka memiliki visi yang sama, pendidikan Islam akan lebih efektif mencapai tujuannya.

Ketiadaan sinergi lembaga pendidikan dan orang tua sering menjadi penghambat tercapainya tujuan pendidikan. Ketika lembaga pendidikan menanamkan nilai A tetapi keluarga menanamkan nilai B, anak menjadi bingung dan cenderung memilih yang lebih enak baginya. Sayangnya, apa yang enak saat ini belum tentu baik untuk masa depannya.

Kebiasaan baik yang sudah tertanam di sekolah atau pesantren bisa tergerus oleh budaya keluarga yang tidak mendukungnya. Contoh, di pesantren terbiasa tilawah dan muraja’ah. Ketika di rumah orang tua memanjakannya dengan Smartphone, anak-anak bisa libur tilawahnya tergantikan main game berjam-jam. Kebiasaan shalat berjamaah di masjid juga bisa hilang ketika orang tua mencontohkan sebaliknya.

Maka, kajian seperti ini juga diharapkan membuat orang tua menjadi support system yang baik ketika masa liburan. Dan jawaban para santri tersebut adalah salah satu buktinya.

Belajar maka Berpijar

Tiga hari sebelumnya, Pengasuh Pesantren Al Ibrah mengamanahkan tema agar para santri termotivasi untuk belajar, baik ilmu agama maupun akademis. Demikian pula orang tua bisa memotivasi putra-putrinya. Jadilah tema ini, Belajar maka Berpijar.

Tema ini terinspirasi dari maqalah Imam Syafi’i: al-ilmu nuurun. Ilmu adalah cahaya. Orang yang belajar dan mendapat ilmu, ia bercahaya.

Kedua, Al Ibrah mengambil positioning sebagai Sekolah Bintang. Dan bintang itu berpijar. Memancarkan cahaya, bukan memantulkan cahaya makhluk lain.

Bagaimana ikhtiar agar anak berpijar? Dari sejumlah hadits dan maqalah ulama, saya mendapati minimal ada lima poin penting. Pertama, orang tua mendoakan anak. Sebab doa orang tua itu mustajabah. Rasulullah juga mencontohkan beliau mendoakan anak-anak, misalnya Abdullah bin Abbas: Allahumma faqqihhu fiddiin wa’allimhut ta’wiil.

Kedua, memotivasi anak agar memiliki niat yang bersih. Niat yang ikhlas, lillahi ta’ala. Sebab niat yang salah bisa membuat seseorang terhalang mencium bau surga. Padahal bau surga bisa tercium dari jarak 40 tahun perjalanan. Selain itu, orang yang niatnya tidak benar juga tidak akan mampu menguasai ilmu agama. Kalaupun menguasai, itu hanya teori. Tidak membuahkan taqwa.

Ketiga, kesungguhan niat. Sebagaimana maqalah Abdullah bin Abbas: Sesungguhnya kemampuan seseorang menghafal tergantung seberapa kuat niatnya. Banyak kisah tentang kesungguhan belajar para ulama. Imam Al-Muzani membaca Ar-Risalah sampai 500 kali. Abu Bakar Al-Abhari juga membaca Mukhtashar Ibnu Abi al-Hakam sebanyak 500 kali.

Keempat, bertaqwa. Sebab Allah menjanjikan memberikan ilmu-Nya kepada hamba yang bertaqwa. Baik dengan jalan sunnatullah pada umumnya atau melalui ilham untuk hamba-Nya. Cara kedua ini kita dapati pada beberapa ulama misalnya Syekh Ahmad Al-Marzuki dan Syekh Muhammad Ibnu Maliki yang keduanya mendapatkan ilham menulis kitab dari mimpi.

Kelima, menjauhi maksiat. Sebagaimana maqalah Imam Syafi’i: Aku mengadukan lemahnya hafalanku kepada Syekh Waki’. Lalu ia menasihatiku untuk menjuahi maksiat. Sebab, sesungguhnya ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya.

Maka, teruslah belajar, maka engkau akan berpijar. Berpijar dengan cahaya-Nya, di dunia dan surga-Nya. Aamiin. [Muchlisin BK]