
Hijrah itu ada dua. Hijrah makaniyah dan hijrah maknawiyah. Hjirah makaniyah adalah hijrah tempat. Pada masa Rasulullah, hijrah makaniyah pernah terjadi dari Mekah ke Habasyah. Tujuannya lil iltija-i mu-aqqatatan (untuk berpijak sementara).
Hijrah Makaniyah
Pada Rajab tahun kelima kenabian, 12 shahabat dan 4 shahabiyah hijrah ke Habasyah. Tiga bulan kemudian mereka pulang ke Mekah karena hoaks, mengira Mekah sudah futuh. Mengetahui bahwa musyrikin Mekah semakin keras menyiksa kaum muslimin, sebagian masuk Mekah secara diam-diam, sebagian lagi dengan jaminan keamanan.
Tak lama kemudian, para shahabat kembali hijrah ke Habasyah. Kali ini pesertanya berjumlah 101 sahabat Nabi terdiri dari 83 shahabat dan 18 shahabiyah. Mereka menetap di Habasyah dan baru menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah pada tahun 7 hijriah bertepatan dengan terjadinya Perang Khaibar.
Yang kemudian wajib adalah hijrah dari Mekah ke Madinah. Tujuannya adalah lit ta’bi-ah (untuk berpijak secara permanen) dikarenakan al-qa’idatul ijtima’iyyah (basis sosial pendukung) dan al-qa’idatul ardhiyyah (basis teritorial) sudah terbentuk.
Kewajiban hijrah makaniyah dari Mekah ini dicabut setelah Fathu Makkah dengan sabda Rasulullah: laa hijrata ba’dal fathi.
Hijrah Maknawiyah
Kita hari ini juga tidak wajib hijrah makaniyah karena sudah tinggal di negeri muslim. Yang ada saat ini adalah hijrah maknawiyah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: al muhaajiru man hajara maa nahallaahu ‘anhu. Orang yang (benar-benar) berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang baginya.
Hijrah maknawiyah bisa disebut hijrah mentalitas, bisa disebut hijrah hati. Dan inilah tema yang diamanahkan oleh PIKK UID PLN Jatim. Hijrah Hati: Mengetuk Pintu Taubat, Menjemput Rahmat di Bulan Muharram.

Betapa sayang Allah kepada hamba-Nya, Dia memberikan kesempatan setiap saat kepada hambat untuk bertaubat. Hijrah hati dari benci dan dendam menjadi memaafkan. Hijrah hati dari suuzhan menjadi husnuzhan. Hijrah hati dari gelapnya kemaksiatan menuju cahaya ketaatan.
Selama nyawa belum sampai tenggorokan, Allah senantiasa membuat pintu taubat untuk hamba-Nya. “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Plus Santunan Anak Yatim

Tak hanya pengajian, acara yang terselenggara pada Rabu, 24 Juni 2026, ini juga ada santunan anak yatim.
Pada seremoni pembukaan, Ketua Persatuan Istri Karyawan dan Karyawati (PIKK) PLN UP3 Gresik Ny. Rizky Suhandopo menyampaikan sambutannya selaku panitia dan tuan rumah. Lalu Wakil Ketua PIKK PLN UID Jawa Timur Ny. Nenny Ema May Rizal menyampaikan sambutan mewakili Ketua PIKK PLN UID Jawa Timur Ny. Syelvi Ahmad Mustaqir.
Hadir pula Pak Kafi, pengurus Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UP3 Gresik. Pada kesempatan ini YBM dan PIKK PLN UP3 Gresik menyerahkan santunan berupa “Kado Muharram” kepada 10 anak yatim dhuafa dari Yayasan Al Lail Suci, Manyar, Gresik.
Pengajian Muharram ini diselenggarakan secara hybrid. Pengurus PIKK UP3 Gresik dan anak-anak yatim menyimak langsung di lokasi, sedangkan jajaran PIKK dari unit lain di wilayah UID Jatim mengikuti secara daring melalui Zoom Meeting. []


